Kredit Janda

Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 1 Januari 2012)

.

.

PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.

Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya. Kau lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku.

Telah rapi anak itu dengan seragam sekolahnya. Seragam putih pudar nyaris kekuningan. Anakmu selalu tampak nyaman mengenakan seragam pudar warna itu. Barangkali karena seragam itu terbuat dari kain katun yang justru makin lembut karena sering dicuci, ataukah pemakluman demi berusaha menyamankan diri karena tidak ada pilihan untuk memperbarui seragam itu? Entahlah, bisa jadi kedua alasan itu saling melengkapi.

Anakmu gelisah. Tatap matanya mengguratkan galau sekaligus tanya yang jelas terbaca. Sedemikian nyata kegelisahan itu nyaris merenggut rona kepolosan anak usia sepuluh tahun.

“Bagaimana, Mak?” ragu dia bertanya.

Lidahmu membatu. Tak ada padamu jawaban memadai dengan alasan yang layak. Anakmu menunggu, tegak berdiri dengan sikap yang takzim.

“Tidak ada uang, Nak,” jawabmu. Garing suaramu sekaligus tak berdaya pada saat yang sama.

“Bukankah semalam sudah ada uang itu? Mak simpan di lipatan stagen [1]?” Lagi anakmu bertanya. Kali ini suaranya seolah menggugat berbalut cemas.

Kau membisu. Benar, semalam uang itu tersimpan rapi pada lipatan terdalam stagen yang kau kenakan. Rapat dan erat stagen itu melapis perut tipismu, sama sekali tak menyembul apalagi memancing kecurigaan. Namun agaknya setiap lembar uang memiliki aroma tertentu sehingga terendus jejaknya oleh suamimu dan ikatan stagenmu tak berdaya menyembunyikannya lebih lama lagi. Tak cukup pula dayamu untuk mempertahankannya. Biru lebam pada pinggulmu masih menyisakan nyeri. Itulah jejak hantaman ketika tak kau serahkan uang itu dengan rela. Ketika terkapar tubuhmu oleh pukulan, saat yang sama harapan dan rencanamu pun terkapar sia-sia.

Entah berapa bulan lalu anakmu mengingatkan tunggakan uang sekolahnya. Kemarau terlambat datang ketika itu, terik matahari hanya bertahan hingga tengah hari lalu mendung sesudahnya membuat batang-batang enceng gondok yang kau jemur tidak kering sempurna, menjadikannya tidak memenuhi standar pabrik penampung. Maka harus menunggu lebih lama sebelum meroncenya menjadi jalinan panjang dan disetorkan pada pabrik mebel di perbatasan kampung. Artinya uang pembayar biaya sekolah itu harus pula menunggu.

Akhirnya, setelah berbulan menjemur dan bermalam-malam meronce kemarin sore kau terima hasil setoran roncean enceng gondok itu. Akan lunas tunggakan uang sekolah, bahkan tersisa sebagian untuk membeli beras, sedikit minyak dan bumbu dapur ala kadarnya. Demikianlah rencanamu pada mulanya.

“Mak,” anakmu memanggil. Suaranya bergetar, memantulkan cemas yang membuatmu gemetar sekaligus pedih.

Bergerak tatap matamu, beralih pada pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari sana samar terhembus aroma tuak. Itulah jejak tertinggal dari jalinan enceng gondok yang menyita peluhmu sejauh ini.

Mata anakmu mengikuti tatap matamu

“Tapi hari ini awal ulangan umum, Mak,” lagi anakmu berkata. Kali ini berupa seruan yang menggugat, “tak akan guru mengijinkanku mengikutinya bila tak terlunasi tunggakan itu.”

Lalu kalian terdiam saling bertatapan. Kau sadari saat itu, kalian sepasang anak beranak yang nyaris kehilangan akal. Lalu desis air mendidih membawa sesuatu padamu, sekantung beras di sudut dapur. Tanpa berpikir lebih lama kau raih kantung itu dengan segera.

“Ini, berikan pada gurumu,” kau serahkan kantung beras itu pada kedua belah tangan kecil anakmu. “Katakan ini pembayar sementara uang sekolahmu. Nanti atau besok Mak akan menukarnya dengan uang tunai.”

Anakmu gugup, terutama adalah ragu.

“Sungguh-sungguh uang tunai,” katamu meyakinkan.

Anakmu mengangguk kemudian dan bergegas menuju sekolahnya. Sekantong beras erat berada dalam pelukannya. Entah dengan cara bagaimana akan diyakinkan gurunya untuk menerima sekantong beras itu berikut janji ibunya. Gagah langkahnya dalam gerak yang bergegas. Itu adalah karena ia seorang anak yang yakin pada janji ibunya.

Lalu kau kembali pada tungku di dapur. Memadamkan nyala apinya dengan sekali tumpas. Tidak ada lagi beras yang bisa kau tanak, air mendidih itu tidak kau perlukan lagi.

***

Kakimu melangkah menuju gudang wak Saroh. Sebuah bilik kecil dengan tumpukan karung gula pasir dan beras. Wak Saroh sedang memindahkkan gula dari karung besar ke dalam plastik pembungkus eceran 1 kiloan. Masing-masing ditimbang satu persatu hingga sekuintal gula itu terbagi dengan sempurna.

Kau raih dingklik (bangku kecil) dan duduk bersandar karung.

“Biarkan aku membantumu sehari ini,” katamu menatap Wak Saroh lurus-lurus, “Cukup bayar dengan sepiring nasi untuk makan anakku siang nanti. Aku tak punya beras sama sekali.”

Wak Saroh menatapmu, sama lurusnya dengan arah matamu.

“Kalau hanya sepiring nasi untukmu atau anakmu, tak usahlah kau bekerja padaku. Pergilah ke dapur dan ambil yang kau perlukan,” katanya.

Kau menggumamkan terimakasih.

“Bukankah kemarin kau beli sekarung beras?” Wak Saroh bertanya tanpa nada mendesak.

“Kupakai untuk membayar uang sekolah.”

“Zaman sekarang mana ada sekolah menerima beras sebagai pembayaran? Hanya sekantung pula, mana cukup? Seingatku itu hanya terjadi di sekolah desa terpencil yang bahkan tidak terjangkau aliran listrik.”

“Hanya itu yang kupunya.” Kau menunduk, menelan pahit yang mendatangimu entah sejak kapan.

“Ke mana pula uang enceng gondokmu?” mata wak Saroh menajam kini.

Kau gelengkan kepala, tanpa sepatah kata pun menjawab pertanyannya. Patahan kata yang tak perlu, karena wak Saroh pastilah tahu apa arti gelengan kepalamu. Napas panjang terhela kemudian. Diulurkannya padamu potongan tali rafia untuk mengikat plastik gula yang telah ditimbang.

“Apa yang kau harapkan dengan mempertahankan laki-laki itu?”

Pertanyaan beriring hela napas itu menghampiri liang dengarmu. Tarikan napas yang sungguh kau tahu gerangan apa yang tersirat di dalamnya.

“Kalau kau pikir bahwa suatu hari nanti ia akan terlepas dari jerat judi dan tuak, itu artinya kau sedang menunggu keajaiban. Dan keajaiban bahkan lebih langka daripada barang antik. Barang antik masih bisa kau coba cari di pasar loak, tapi keajaiban tak akan kita temukan di mana pun.”

Kau terdiam.

“Apa pula yang kau pertahankan? Di malam hari kau serupa pelacur percuma baginya dan siang hari serupa kantung uang yang selalu bisa dipalak. Banyak perempuan terbodohi oleh rayuan laki-laki. Tapi lelakimu itu bahkan tidak memerlukan rayuan untuk membodohimu.”

Hatimu tercabik. Bukan oleh karena ketajaman kalimat Wak Saroh, melainkan oleh karena kebenaran yang tak terelakkan pada setiap pernyataan itu. Apa yang diungkapkannya benar belaka. Kau bahkan lebih bodoh dari perempuan mana pun.

Lalu seseorang muncul di belahan pintu.

“Angsuran, wah Saroh,” kata tamu itu sembari memberi salam.

“Duduklah dulu sebentar, mau kutuangkan secangkir teh untukmu?” sambut wak Saroh.

“Terima kasih, akan terlalu banyak minumku nanti,” tolak tamu itu lembut, “masih banyak angsuran yang harus kujemput.”

Wak Saroh tertawa, “Begitu ya? Dan setiap angsuran hanya menawarkan air minum saja?”

Tamu itu ikut tertawa.

“Tanggal tua begini, banyaklah yang harus dihemat, itu supaya bisa tetap membayar angsuran tepat waktu.”

“Ya, begitulah.”

Saat Wak Saroh menyerahkan sejumlah uang, tahulah kau siapa orang itu dan seketika muncul sesuatu dalam benakmu.

“Bisakah kau beri aku pinjaman serupa itu?” tanyamu dengan segera. Sangat segera tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu apakah kau layak mengajukan permintaan serupa itu. Tapi bukankah harus kau lakukan segala hal demi memenuhi janji pada anakmu?

Wak Saroh dan tamunya saling bertatapan, lalu beralih padamu kemudian.

“Tapi ini kredit janda,” suara wak Saroh seolah mengambang.

“Apa artinya?” kau tidak mengerti.

Tamu itu menatapmu dengan sungkan berbalut belas kasihan.

“Maaf Ibu, ini bukan kredit biasa. Ini adalah pinjaman tanpa bunga atau pun barang jaminan, yang diprogram khusus oleh lembaga pendonor untuk membantu kehidupan ekonomi para perempuan yang tak bersuami.”

“Artinya, kau harus menjadi janda terlebih dahulu untuk mendapatkan bantuan pinjaman itu,” tambah Wak Saroh.

Kau termangu, lalu seakan melayu oleh harapan yang mendadak pupus. Jadi begitulah. Agaknya para janda dianggap lebih layak mendapat bantuan dibanding para perempuan bersuami. Meski kenyataannya ada perempuan yang justru lebih menderita karena bersuami.

Kau jinakkan harapan yang seketika tumbuh dan layu pada detik berikutnya. Kau redakan gejolak hati yang seolah hendak menggugat. Kau berpikir kemudian sudah waktunya untuk berhenti menjadi perempuan bodoh. Berhenti menjadi perempuan yang disetubuhi demi nafsu belaka atas nama perkawinan. Berhenti menjadi perempuan yang dipalak atas nama ketakberdayaan.

Bagaimana caranya?

Perceraian bukanlah sesuatu yang tidak memerlukan biaya. Lebih dari itu, lelakimu tidak akan sudi bercerai dengan mudah. Anakmu dan orangtuamu di kampung, bisa dipastikan akan menjadi obyek ancamannya untuk tetap mengikatmu.

Apakah demi semua itu kau akan tetap menjadi perempuan yang terbodohi bahkan tanpa rayuan?

Sejatinya kau bukan perempuan bodoh. Hanya dengan berpikir sebentar telah kau peroleh cara untuk menjadikan dirimu seorang janda, tanpa proses perceraian yang rumit dan mahal, tanpa pula melarikan diri dari ancaman.

***

Kakimu melangkah gamang membawa niat samar itu dalam benakmu. Kau hanya memerlukan beberapa cairan untuk membuat tuak oplosan, lalu menuangkannya pada botol-botol yang berjajar di meja di mana lelakimu biasa menempatkan tuaknya. Taruhlah pada jajaran terdepan sehingga akan teraih paling awal.

Pada saatnya tuak oplosan itu akan melakukan tugasnya dengan baik. Tujuan itu akan tercapai dengan sempurna tanpa menimbulkan pertanyaan yang berlebih. Seantero kota tahu bahwa dia adalah peminum kelas berat. Bukan hal aneh bila peminum mati oleh karena keracunan tuak oplosan. Hal semacam itu telah terjadi berulang kali di seantero negeri. Tidak perlu dilakukan pengusutan untuk memperoleh terdakwa. Kematiannya akan menjadi sesuatu yang diikhlaskan, bahkan disyukuri.

Semudah itu. Lalu kau akan mendapat pinjaman kredit janda untuk melunasi uang sekolah anakmu dan kau akan kembali meronce enceng gondok untuk melunasinya. Kau bahkan tidak perlu lagi menyembunyikan uang di balik lipatan stagen. Kau akan tertidur dengan tenang setiap malam tanpa perlu mendengar dengus nafas beraroma memuakkan.

Rancangan yang sederhana. Namun benarkah mudah?

Dahulu kala ada seorang nabi yang bermahkota jalinan duri dan disalibkan oleh sebuah rezim. Sebilah pedang menusuk lambungnya sehingga darah mengaliri palang salibnya dan matilah nabi itu.

Kematian nabi itu diyakini para pengikutnya, merupakan sebuah upaya penebusan dosa umatnya. Bahwa dialah yang tersiksa demi supaya dosa umat terampuni. Kematiannya adalah kunci pembuka pintu surga. Oleh karena itu nabi itu disebut sebagai Sang Juru Selamat.

Dengan kematiannya, suamimu juga akan menjadi juru selamat bagi keluarganya. Anakmu akan bersekolah dengan tenang karena uang sekolahnya terbayar tepat waktu, karena tidak lagi terrenggut untuk membeli tuak ayahnya. Kau akan menjadi seorang janda yang bekerja dengan giat dan menyimpan setiap rupiah penghasilanmu dengan leluasa dan aman di tempat yang sewajarnya tanpa harus merasa was-was setiap kali.

Kalian akan menjadi sepasang anak beranak yang mencoba menata masa depan dengan lebih baik yang tidak pernah terwujud selama lelakimu tetap tinggal. Dengan kematiannya, ayah anakmu akan menjadi seorang juru selamat.

Sang nabi tergenapi takdirnya sebagai juru selamat oleh karena seorang murid Yudas Iskariot menggenapi takdirnya sebagai pengkhianat yang menyerahkannya kepada rezim yang kemudian menyalibkannya.

Sekarang, sanggupkah kau menjadi seorang serupa Yudas demi menjadikan suamimu yang adalah juru bencana menjadi sebagai juru selamat?

Malam larut sudah, menebar jaring kegelapan pada langit tanpa cahaya. Tidak ada bintang berkedip yang terjaring di antara celahnya. Semesta seolah larut dalam lelap nan hening, sejauh telinga mendengar dan mata menerawang.

Namun sepasang matamu tak juga rebah dalam tidur melainkan terus berjaga menelusuri malam yang bagai tak berfajar. (*)

.related at cerpen koran minggu

Iklan

Kado

Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 25 Desember 2011)

HUJAN!Hari ini hujan, lebat benar. Aku merasa linglung. Hari yang aneh! Seharusnya kita dapat bernyanyi bersama, dalam irama hujan. Mengapa kini aku tak mampu menghayati irama hujan seperti biasanya? Mengapa aku merasa hujan itu seperti menghinaku? Menyindir kesenyapanku sejak ketiadaanmu? Mengapa kau tergesa-gesa pergi? Dengan alasan yang tidak kau beri?

Tidak tahu harus berbuat apa, harus ke mana, bersama siapa. Dulu, jika hujan begini aku selalu menyambutnya dengan suka cita. Karena dalam irama hujan itu, kita bisa memainkan nada-nada meski tanpa bait, tanpa syair.

“Jadilah inspirasiku,” katamu, di tengah irama hujan. Gemercik yang sangat menenteramkan. Indah dan berirama.

Kau telah menanam setangkai bunga sepatu warna merah itu, pada musim hujan lalu. Kelihaianmu membuatnya begitu cepat tumbuh dan bercabang-cabang. Berbunga-bunga. Dan tiba-tiba kau renggut dia sampai akarnya, lupakah kau, bunga itu kau tanam di hatiku. Mencerabutnya berarti kau bawa serta hatiku. Lihat, sekarang aku tak memiliki hati lagi. Yang ada sepi. Berjalan aku menuju beranda, dimana kau pernah dan suka, diam-diam menatap cahaya bulan, mengintipnya dengan senyum.

“Lihat, bulan itu amat kesepian.” Katamu pada suatu malam. Dengan bodoh kukatakan, “Ya,” sedangkan aku tahu bulan itu tak pernah sendiri, ia tak pernah sepi, meskipun selalu di malam hari. Ia ditemani jutaan bintang yang ditaburkan begitu saja di atas langit. Nyaris tanpa pola. Tetapi lihatlah, bintang-bintang itu kembali, selalu kembali dalam posisi dan bentuk yang sama esok, dan esok lagi, dan esoknya lagi. Begitu setia pada posisinya.

Di mana kesetiaanmu?

Rinyai hujan itu begitu genit menari-nari di antara mozaik-mozaik halaman kita. Di sini pernah kau katakan, kau ingin membeli kaca mata. Supaya dapat kau pandangi wajahku dengan seksama. Pada tahi lalatku. Pada lesung pipiku. Pada pori-poriku. Tetapi kau tahu, kita belum saatnya. Diam-diam aku menyisihkan penghasilan kita yang tak seberapa. Diam diam pula aku mengurangi makan siangku. Dan berpura-pura tidak berselera di setiap makan malam kita, hanya agar aku bisa membelikanmu kaca mata. Dan sekarang, kaca mata itu sudah ada dalam almari. Sudah siap kuhadiahkan di hari ulang tahunmu sekaligus kado natal tahun ini. Kubungkus dia dengan kertas kado merah jambu. Aku tahu kau pasti suka, tanggal 25 Desember tak lama lagi. Hari dimana kita biasa melewatkannya hanya berdua, di bawah bintang-bintang, juga rembulan yang kau katakan kesepian, atau jika hujan bertandang, kita pun akan bernyanyi riang, bersenandung dalam hujan.

Sudah 25 Desember sekarang!

Semestinya sore ini, meskipun kutahu bakal turun hujan, kita dapat bernyanyi riang, bersama irama hujan. Bersenandung tanpa bait, seperti sudah-sudah. Di teras itu dengan taman tak seberapa luas namun menyenangkan, kita akan memandang renyai hujan bersama dua cangkir teh cina yang kuseduh dengan cinta. Tak mengapa tak terlalu manis, kita toh akan mencecapnya dengan cinta. Rasa yang ditimbulkannya akan jauh lebih manis dari apa pun di dunia.

Senyap semata.

Hanya gemercik yang kian kental. Kutimang kado kecil berwarna merah jambu berisi kaca matamu. Kemarin, Soe, adikku satu-satunya, menghadapku dengan berkaca-kaca. Dia bilang, anaknya butuh biaya. Demam berdarah, katanya. Aku hanya bisa memandangnya, uang simpanan kita sudah berubah bentuk menjadi kaca mata. Soe kembali dengan putus asa. Hatiku pedih luar biasa. Tetapi cinta membutuhkan pengorbanan. Ingin aku berteriak pada Soe, ambillah kaca mata ini, jual pada tukang loak. Toh calon pemakainya sudah tidak membutuhkannya lagi. Tapi aku tak jadi bilang apa-apa. Diam-diam aku merasa berdosa pada adikku sendiri, pengorbanan dan kasih sepertinya tak kumiliki lagi, sebab aku memilihmu.

Aku hanya mematung memandang Soe berlari pulang dengan sepedanya. Hatiku pedih. Ketika cinta harus memilih, kita menjadi rapuh. Kado kecil merah jambu kembali kuletakkan dalam almari pakaian kita, sambil berharap kau sudi kembali dan memakainya, kapan-kapan bila kau sempat. Dan sekarang aku mencoba menikmati irama hujan kita, seperti sudah-sudah. Ini hari ulang tahunmu, hari natal yang seharusnya indah dan agung. Di dalam lemari pendingin sudah kusiapkan bahan-bahan untuk sekadar perayaan kecil bagi kita berdua. Hanya sekadar berjaga-jaga jika kau pulang, kita akan merayakan makan malam dalam cahaya lilin dan renyai hujan, dengan kaca mata barumu. Kau akan menatapku dengan seksama, biarpun dalam remang cahaya lilin belaka.

Sembari menimang mesin ketik tua, cetak cetok bunyinya. Kuputar ulang kembali rekaman peristiwa, dimana kita bermula.

“Jangan pernah menyesali pilihanmu,” kata ibuku.

“Ah, hidup untuk dinikmati sepenuhnya,” jawabku datar

“Dia laki-laki terlalu sederhana. Tak punya apa-apa.” Ibu meninggikan suaranya… lehernya tegak….

“Segala hal datang dari tiada. Lalu menjadi ada. Dan kembali menjadi tiada. Begitulah siklus kehidupan. Jadi mengapa mesti risau, Bu?” Ibu mengerutkan dahi, aku menatapnya tenang, laksana seorang penjelajah memandang gunung yang mudah di daki dalam taksirnya.

“Siapkan dirimu kalau begitu,” kata Ibu seolah tak yakin.

Itu adalah hari menjelang pertunangan kita, meski tanpa cincin. Katamu kau akan membelinya jika tiba saatnya. Ibu memandang aneh pada kita, menggeleng-geleng. Bagaimana mungkin sebuah pertunangan tanpa cincin? Kau menggantinya dengan lingery tanpa merk warna merah bata, katamu lagi, aku nampak keren dalam warna itu. Dengan bodohnya, aku tersenyum bangga, mengenakan lingery itu hampir setiap malam, sampai terkadang aku lupa mencucinya.

Cetak-cetok bunyi mesin ketik portable tua, menggelikan dibandingkan notebook milik Kay yang selalu ditenteng ke mana-mana. Tidak mengapa menjadi sedikit menggelikan di kala kita melakoninya dengan percaya diri. Orang sering menilai kita baik atau buruk terkadang hanya persoalan bagaimana kita menampilkan diri. Juga lingery merah bata itu, tak bermerk sih, memang kenapa jika aku memakainya dengan bangga dan percaya diri, aku mengenakannya dengan segenap rasa cinta, dan diserahkan oleh seseorang yang hatinya penuh cinta.

Kay pasti sudah mulas perutnya mentertawaiku seperti ini. Di mana aku duduk dalam senyap, di tingkah suara renyai hujan. Bergaya percaya diri dengan mesin ketik kuno, cetak-cetok bunyinya. Semoga tidak terjadi salah penulisan kata. Berhati-hatilah dalam menggunakan kata atau kalimat dalam sebuah karya tulis, pesanmu pada suatu waktu. Perbedaan kata atau kalimat memiliki arti signifikan bagi tiap subyek maupun obyek. Baiklah. Sambil merenungi, di mana letak kesalahan ini hingga tiba-tiba kau pergi.

“Kau tidak mengundangku ke pesta ulang tahun dia, sekaligus merayakan natal kita?” Tanya Kay lewat telepon. Ah, mendadak aku jadi sunyi. Tidak ingin berkata-kata. Jawabku hanya:

“Kami tidak mengadakan pesta.”

Sudah!

Kay tak bertanya-tanya lagi. Dan hari menjadi gelap. Aku segera menyalakan lilin, walau tanpa kehadiranmu. Mendadak segalanya begitu senyap. Biarlah! Biar kukenang saat kita berpelukan, tanpa kata-kata. Dan kita saling tahu bahasa dalam hati kita meski tak diucapkan.

Seperti halnya mata hati, mata cinta pun memiliki caranya sendiri untuk merasakan kehadiran kekasihnya. Aku percaya kau ada pada suatu waktu. Kau di situ. Berdiri dalam gelap. Memandang dalam diam. Aku yakin kau kembali. Percayalah, ya aku percaya. Dalam cinta ada kepercayaan. Kata Jake kepada Rose dalam Titanic. Aku sungguh mati percaya pada itu. Mustahil kita hidup tanpa memiliki kepercayaan. Bayangkan, kau akan curiga pada siapa pun orang di sekelilingmu. Kau tak dapat memandang manusia lain melalui kebaikannya. Aku belajar itu darimu.

Tapi mengapa? Kau pergi juga, begitu tiba-tiba.

Hari sudah berganti. 25 Desember sudah menjadi hari ini. Aku mulai meluapakan segala hal tentangmu, tepatnya berusaha melupakan. Namun kaca mata dalam bungkus kado merah jambu tetap kusimpan dalam almari pakaian kita, aku percaya, jauh dalam hatiku, kau pasti pulang.

Akhirnya waktu demi waktu membimbingku menjadi semacam rasa biasa saja. Kesepian tak lagi begitu bermakna. Hujan sudah reda, hanya menyisakan rinyai tak seberapa. Langit masih suka muram, aku sudah terbiasa. Udara lembab, tak mengapa. Cetak-cetok mesin ketik kuno yang menggelikan itu masih menyertaiku, aku mulai menikmatinya. Sesekali mengenangmu dengan segenap rasa rindu.

Tok! Tok! Tok!

Menyerupai suara cetak-cetok mesin ketik kuno menggelikan ini, atau suara hujan, lagi? Bulir-bulirnya kadang begitu besarnya….

Tok! Tok! Tok!

Bukan. Itu bukan suara bulir hujan. Juga bukan suara cetak-cetok mesin ketik kuno menggelikan ini. Itu suara seseorang mengetok pintu rumah sederhanaku. Ahhh…sudah lama tak ada suara seperti itu. Pasti menyenangkan bisa berbincang dengan seseorang, setidaknya seseorang , meskipun dia seseorang yang menawarkan dagangan, atau permintaan sumbangan.

Tok! Tok! Tok!

Yeah…!! Aku datang membuka pintu, seseorang berdiri di situ dengan jaket baseball abu-abu dan topi warna hitam, menutupi wajahnya hingga mata. Seuntai senyum merekah. Aku terpana. Hampir lupa caranya tersenyum. Dia merenggut topi hitamnya dan… aku terpana, lebih dalam.

“Boleh aku masuk?” pintamu….

“Kau selalu diterima…,” jawabku. Harus bagaimana aku? Aku takut berhalusinasi. Kami berdiri dalam bimbang… jaket baseball itu terbuka.

“Kau pasti membenciku,” aku harus berkata apa?

“Aku pergi untuk ini…,” dia merogoh sesuatu dari dalam kantung celananya, menggenggam erat dengan tangan kanan.

“Ibumu mentertawaiku tentang pertunangan kita. Aku tersudut sebagai lelaki. Kay memandangku sebelah mata gara-gara itu. Meskipun kau berkata tak selalu pertunangan ditandai dengan cincin. Aku ingin kita memakainya, seperti orang lain, agar aku sebagai lelaki punya harga diri.”

Dia membuka genggaman tangannya. Sebentuk kotak kecil. Ia memandangku tepat pada kedua mataku, dimana aku tak bisa sembunyi dari apa pun. Di depannya aku selalu telanjang, tanpa masker apa pun, atau topeng apa pun. Kotak kecil itu berisi cincin emas putih, berkilau….

“Bolehkah aku?”

Dan karena aku diam, ia meraih jari manis kananku, entah mana yang benar, di mana posisi yang tepat untuk melambangkan keterikatan, di kanan? Di kiri? Yang jelas jari manis bukan?

Dan kaca mata itu. Kita hanya tinggal menunggu hujan untuk menari bersama. Hanya saja, aku lupa bilang padamu, kekasihku, ibuku sudah abadi, di sana, di dunia yang lain. (*)

.

.

Rewwin, 2010

.

BUNGA ILALANG

Cerpen Miftah Fadhli (Jawa Pos, 18 Desember 2011)

ANAKKU, Sandy, berumur delapan tahun, tak kelihatan di antara anak-anak yang baru saja lewat di depan rumah. Di antara mereka aku bisa melihat Bagas, Sucipto, dan Adijaya berjalan beriringan. Pukul sebelas ini, anak itu seharusnya pulang bersama tiga serangkai itu. Tapi tak satu pun dari mereka yang melihat Sandy keluar sekolah. Bagas mengatakan, tiba-tiba saja dia kehilangan Sandy di halaman sekolah.

“Kami sempat menunggu Sucipto membeli gulali, Bu.” Kata Adijaya.

Pagi tadi, Sandy menghabiskan semua nasi di piringnya. Biasanya dia lari begitu saja dari kursi dan menyisakan setengah isi piring. Tapi hari ini dia memakan semua sayurnya. Aku membuatkannya tumis kangkung dan sayur bayam. Sandy menyendokkan kedua sayuran itu ke piringnya dan makan dengan lahap. Biasanya dia mengeluh soal sayur-mayur dan tidak pernah menghabiskannya alih-alih tak pernah menyentuhnya.

Aku, sebenarnya, cukup sering memperingatkan Sandy supaya tidak mengompol lagi. Setiap tiga hari sekali, dia mengompol.

“Kamu sudah delapan tahun, Sayang.”

Tapi Sandy memang masih kecil, sebenarnya. Dia mengaku tidak bisa menahan perasaan ingin kencing ketika tidur. Seolah-olah semua itu hanya mimpi dan keesokan paginya, celananya basah.

Pagi ini, adalah sebuah keajaiban anak itu tidak membasahi celananya. Katanya, dia sengaja bangun tengah malam untuk pipis dan bangun pukul tiga untuk memastikan celananya tidak basah. Dia juga mengaku menggosok gigi sebelum tidur dan berdoa sebagaimana Pak Roji’i melafalkan doa tidur untuknya. Berkali-kali Pak Roji’i datang kepadaku hanya untuk memastikan Sandy sudah hafal doa tidur. Guru ngaji itu merasa perlu memastikan Sandy menghafal doa tidurnya karena pada hari ujian, doa itu selalu gagal diucapkannya.

“Sandy sering mengeluh soal mimpi buruk, Bu Ani.”

Tapi sekarang anak itu menghilang setelah perilaku tidak biasanya hari ini. Aku memeriksa meja belajarnya barangkali ada surat undangan yang lupa dia berikan. Tapi mejanya bersih, baik dari kotoran bekas penghapus ataupun perlatan tulis yang berserakan. Robekan kertas juga dia buang di keranjang sampah. Beragam pikiran menumpuk dalam kepalaku hari ini. Hari ini, Sandy menjadi anak yang tertib dan disiplin.

***

Aku menelepon ke sekolah Sandy untuk memastikan keterlambatannya karena ada acara penting di sekolah. Bu Farida, bagian tata usaha, mengatakan sekolah sedang tidak mengadakan acara apa pun dan semua murid sudah semuanya pulang. Tidak satu pun murid tinggal di sekolah. Setelah shalat Zuhur aku duduk-duduk di beranda sambil berharap seseorang datang dan mengabari soal Sandy. Lebih dari itu, aku berharap Sandy menemukan jalan pulang.

Pukul satu aku sudah mondar-mandir di halaman sambil sesekali melongok ke jalan, dari ujung ke ujung, barangkali Sandy ada di bahu jalan. Kepada orang-orang yang lewat aku bertanya apakah mereka melihat Sandy. Pak Luhur, penjual bakso keliling, lewat di depan rumah dan berhenti.

“Wah, saya tidak lihat Sandy di sekolah, Bu. Hari ini dia tidak beli bakso saya.”

Kalau begitu, tentu saja, dia belum makan siang. Hari ini dia tidak terlalu ngotot meminta uang jajan lantaran uang yang kuberikan lebih sedikit dari biasanya. Sandy tidak mungkin tidak membeli bakso Pak Luhur karena, memang, sedikit apa pun uang jajannya, kucukupkan agar dia bisa membeli bakso Pak Luhur. Akhirnya, kupesankan semangkuk bakso Pak Luhur agar ketika pulang, dia bisa tetap memakan bakso itu.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia belum pulang hingga siang. Pagi tadi, aku membuatkannya omelet—seperti yang dimintanya kemarin—dan membuatkannya susu cokelat. Aku tidak memaksanya untuk memakan sayur—tapi Sandy menyendokkannya sendiri ke piringnya. Seingatku, aku tidak memarahinya pagi ini—juga kemarin-kemarin sebelumnya. Lagipula aku tidak pernah marah—apalagi berkata-kata kasar—pada anak delapan tahun itu. Kalau dia nakal, kupikir itu biasa karena dia baru delapan tahun dan aku tidak pernah memukulnya. Aku hanya menasihatinya dengan cerita-cerita Nabi, atau kadang mendongengkannya legenda-legenda rakyat dari tanah seberang. Sama sekali tidak ada kemarahanku pada anak kecil itu.

Kalau lemari pakaiannya berantakan aku hanya memperingatinya sekali agar tidak mengulanginya—dan tidak pernah bersuara keras. Pagi ini anak itu tidak membuat lemari pakaiannya berantakan. Bahkan dia memakai bajunya sendiri. Dia mandi sendiri dan bangun sendiri. Tempat tidurnya sudah rapi saat aku masuk untuk memastikan dia sudah bangun. Hari ini, lantaran memang aku tak pernah memarahinya, kehidupan dimulai dengan keajaiban bahwa Sandy tidak membuat pagi hari seperti pasar malam.

Lagipula dia tidak banyak bicara—alih-alih mengomel—pagi ini, selain pengakuan-pengakuan tidak biasa itu. Dia juga tidak membawa peralatan olahraga apa pun atau mengatakan apa pun karena ingin bermain sepulang sekolah. Biasanya dia mengadu akan terlambat kalau ingin singgah ke rumah Bagas, atau temannya yang lain. Tentu saja, dia tidak pernah mengaku terlambat karena ingin mengerjakan PR di rumah teman.

Tapi semalam, Sandy mengerjakan semua PR-nya sendirian.

Akhirnya aku mendatangi rumah Bagas—dua blok dari rumahku—untuk memastikan Sandy berada di sana. Tapi Bagas sedang tidur siang (dan tentu saja, tidak ada Sandy di sana). Kepada Amira aku bertanya, tapi dia mengaku melihat Sandy duduk sendirian di taman sekolah hari ini.

“Sandy pendiam hari ini, Bu.”

Aku khawatir. Apa yang membuatnya begitu aneh? Aku mendatangi rumah Pak Roji’i berharap anak itu ada di sana sedang menceritakan mimpi buruknya. Tapi Pak Roji’i sedang pergi menghadiri hajatan Pak Sami’un. Aku tak menemukannya di lapangan mesjid, karena dia sering bermain sepakbola di sana. Kudekati kerumunan anak-anak untuk memastikan Sandy ada di antara mereka. Tapi, anak-anak itu bahkan tidak mengenal Sandy. Aku sadar telah berada jauh dari rumah.

Pukul tiga, aku kembali ke rumah tapi tidak ada Sandy di dalamnya. Suamiku baru akan pulang pukul delapan. Aku duduk-duduk sebentar di beranda berpikir di mana seharusnya Sandy berada. Mas Karso, satpam yang sering mengelilingi komplek menjelang sore, mengaku tak melihat Sandy.

Pukul setengah empat kuputuskan untuk mendatangi sekolahnya. Lapangan sekolah itu dipenuhi anak-anak bermain sepakbola—tapi tak satu pun di antara mereka mengenal Sandy. Guru-guru dan pegawai sekolah telah pulang. Ruang-ruang pegawai telah dikunci. Aku duduk di bawah pohon beringin di taman sekolah, sementara langit di ufuk Barat mulai menguning. Burung-burung berterbangan di langit, berkicau, menerbitkan kegelisahan di hatiku. Kupikir, tak mungkin anak berumur delapan tahun itu melarikan diri. Aku hanya terlalu takut. Tapi Sandy tak pernah melakukan ini.

Perlahan-lahan bayangan pohon beringin membesar sehingga aku tak dapat menemukan bayanganku sendiri. Lembayung di langit membuat bangunan sekolah kelihatan muram padahal lapangan sekolah masih penuh dengan anak-anak bermain sepakbola. Aku tidak tahu harus mencari Sandy ke mana lagi sementara hari mulai sore. Suamiku akan pulang dan mendapati Sandy tak ada di rumah adalah satu hal yang membuatku sangat khawatir. Sandy dan beragam pikiran yang berkecamuk dalam kepala adalah banyak hal yang membuatku tak ingin pulang—setidaknya sampai aku menemukan anakku.

Tapi lapangan sekolah mulai kosong. Anak-anak pulang ke rumahnya sementara aku masih bingung memilih apakah pulang atau terus mencari. Tapi aku harus berada di rumah—setidaknya—ketika suamiku pulang (dan berharap ketika Sandy juga pulang).

Anak itu menyiapkan semua buku pelajarannya sendirian. Menyiapkan air hangat agar tidak kedinginan ketika mandi, juga sendirian. Sandy tidak ingin dicium seperti anak kecil, tapi pagi ini dia meminta aku menciumnya. Kemarin dia bertanya apakah aku akan pergi hari ini. Segala ketidak-biasaan itu membuatku risau. Sepanjang jalan aku beberapa kali melongok ke belakang berharap Sandy mengikuti. Terpikir olehku untuk kembali ke sekolah barangkali Sandy ada di sana. Terpikir olehku juga untuk kembali mendatangi rumah teman-temannya mungkin Sandy singgah di sana. Tapi hari mulai gelap, dan aku masih tak percaya Sandy masih belum kutemukan.

Aku bahkan tak tahu harus melakukan apa kalau Sandy masih belum pulang. Tapi pintu pagar terbuka saat aku sampai di rumah. Dari kegelapan teras Sandy muncul dengan baju kotor dan bau keringat yang tercium samar-samar. Anak delapan tahun itu menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya dan menatapku dengan mata yang sangat lelah. Aku ingin mengejarnya tapi dia mulai mendekati dengan langkah yang ragu-ragu, tapi toh Sandy masih berjalan. Sebenarnya aku ingin memeluknya lantaran selama seharian ini aku telah kehilangan anak itu. Tapi tepat di depanku, Sandy berhenti dan memperlihatkan tangannya kepadaku.

“Ibu, aku berjanji tidak akan mengompol lagi.” Ucap Sandy, seperti doa.

Tapi bukan pernyataan itu yang membuat aku bergeming dan tak menahan diri untuk meneteskan airmata. Bahkan aku ragu untuk berkata-kata. Tapi Sandy terus berucap dan menyodorkan tangannya kepadaku.

“Uang jajanku tak cukup untuk membeli bunga. Aku mencari bunga liar seharian, tapi aku cuma menemukan ilalang. Ini untuk Ibu, tapi sudah layu.” Katanya, dengan kepolosan anak berumur delapan tahun.

Aku baru ingat, ini tanggal 22 dan Sandy menghilang seharian bukan tanpa alasan. Aku mengambil ilalangnya dan memeluk anak itu erat sekali—seperti dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun kehilangan. Dia tentulah belum mandi sore ini dan tubuhnya bau keringat. Tapi bagiku, itu bau pengorbanan. (*)

.

.

Desember, 2011

— selamat Hari Ibu, untuk Ibu Tercinta;

tak ada malaikat paling cantik selain Ibu.

.

Surat Terakhir

Cerpen Novrizal (Republika, 18 Desember 2011)

DI malam yang hening, masih juga aku terusik dengan suara-suara hembusan napas yang megap-megap. Suaranya yang berat, seakan-akan tidak mampu untuk mengucapkan sebuah kalimat dengan sekali napas. Orang tua yang terkulai lemas itu memanggil dan memintaku untuk dibuatkan segelas kopi hangat. Yang tak kusuka, ketika dia memintaku untuk membeli tiga batang rokok di warung pada malam itu. Dia berusaha mencoba beranjak sendiri untuk membelinya dengan kondisi seperti itu apabila kuabaikan. Aku pikir itu tidak mungkin sebab berdiri saja dia tidak sanggup, apalagi berjalan.

Aku teringat saat ibu merawatnya dengan baik dan dia tampak ceria walau kondisinya tidak terlalu parah. Setahun lebih kepergian ibu ke Pontianak, Kalimantan Barat, dan tinggal di rumah Bang Reza. Dia selalu menanyakan kabarku dan ayahku melalui surat tanpa memaksaku untuk membalas suratnya. Orang tua itu hanya bisa tersenyum mendengar isi surat dari ibu yang aku bacakan sebab matanya yang katarak tidak bisa membaca dengan jelas huruf-huruf yang tertulis di dalam surat itu.

“Untuk kali ini jangan merokok lagi!” Aku melarangnya, tapi terlalu iba mendengar suaranya yang terus meminta saat aku menjauhkan dua batang rokok yang tersisa di meja. Aku hanya ingin yang terbaik selama dia menghembuskan napas. Dia meraih sebatang rokok; aku membantu mengambilkan, lalu menunggunya sampai tertidur. Aku pikir inilah saatnya bakti terakhirku untuk Ayah sebab aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara yang diberi tanggung jawab untuk merawat ayah sampai ibu kembali ke desa.

***

Keesokan harinya, banyak orang yang berdatangan ke rumah, di desa Tanjung Anom, Deli Serdang, Sumatra Utara (daerah tempat tinggalku). Sebagian yang lain menyiapkan tenda sederhana, sebagian lagi menyiapkan kursi-kursi dan meletakan bendera hijau di ujung jalan yang bertuliskan huruf Arab: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Aku tak tahu harus berkata apa kepada ibu atas kepergian suami yang dicintainya itu. Tetes demi tetes, air mata telah membasahi wajahku yang kaku. Terdengar suara-suara merdu para sahabat yang membacakan surat Yasiin. Lantunan ayat-ayat suci itu membuatku merasa tenang dengan hela napas yang panjang.

Usai pemakaman, aku berpikir bagaimana cara mengabarkannya kepada ibu yang di seberang pulau itu. Sebelumnya pun aku tidak pernah membalas surat dari ibu karena pada saat itu pikiranku bercabang dengan urusan kerjaan dan merawat almarhum ayah sehingga tidak ingin meninggalkannya sendiri terlalu lama di rumah. Aku juga merasa bersalah karena tidak merawat dan menjaga suaminya dengan baik. Kepergian ibu bukan karena rencananya, akan tetapi keadaan yang memintanya sebab istri Bang Reza sedang hamil tua pada saat itu. Istri anak sulungnya itu adalah seorang yatim-piatu dan tidak memiliki keluarga selain keluarga suaminya. Oleh karena itu, dia meminta ibu datang untuk membantunya dan berharap ibu mengajarkan cara merawat bayi pertama mereka usai istrinya melahirkan.

***

Sebulan telah berlalu, namun tidak ada kiriman surat dari ibu seperti biasa setiap bulan. Kini, tinggal aku sendiri di rumah kayu itu. Terasa hampa karena tidak lagi mendengar napas ayah yang bengek. Kehampaan di malam itu membuat imajiku melayang; ayah menyusup dalam imajiku; dia memanggil dan menyuruhku membeli rokok; aku tidak membelinya karena aku tidak suka dengan kepulan asap yang memenuhi ruangan rumah dengan ukuran 6×6 meter itu. Lalu, aku tersentak dan melihat tempat tidur ayah yang kusut dan tak terurus. Sampai-sampai aku lupa, bahwa ayah sudah tidak ada lagi.

Pertama kalinya aku mengajak seorang teman untuk tidur di rumah, tapi masih saja terngiang suara ayah jelang tidurku. Merasa terganggu dengan sayup-sayup itu, aku mengajaknya bergadang semalaman. Begitu juga hari-hari berikutnya, aku tetap memintanya untuk tidur di rumah.

“Akhir-akhir ini kau aneh, ada masalah?” Dia bertanya sebelum tidur. Aku pura-pura tersenyum sambil bergurau untuk mengalihkan pertanyaannya. Jika diberitahu hal yang kualami, khawatir dia tidak mau lagi tidur di rumahku karena alasan takut. Untuk itu, aku tidak pernah bercerita tentang mimpi-mimpi yang sering hadir dalam tidurku.

***

Setengah tahun kematian ayah, surat dari ibu tak kunjung tiba. Aku benar-benar tidak mengetahui kabar ibu dan abang di sana. Aku juga tidak tahu cara mengabarkan pada mereka bahwa ayah telah lama meninggal. Sementara, aku bingung harus bertanya pada siapa sebab surat-surat yang dikirimkan oleh ibu sebelumnya hilang entah ke mana. Padahal, di surat itu terdapat alamat abang sebagai petunjuk jika aku mengirim surat ke sana.

Tiba-tiba perasaanku tak enak. Pak kepala desa memanggil dan memberikan sebuah amplop yang ditujukan untukku. Maklum, alamat yang biasa kami pakai adalah alamat rumah pak kepala desa karena rumah beliau yang paling dikenal di desa kami. Kemudian aku masuk dan duduk di tempat tidur almarhum ayah. Sebelum aku membaca tulisan di amplop, aku yakin surat itu dari ibu. Setelah membacanya, ternyata benar! Itu adalah surat dari ibu, tetulis: “Dari Ibu Sumarni untuk Rohis Ghozali”. Gembira tak terhingga ketika membaca tulisan di amplop itu. Aku merasa doa-doaku terkabul.

Sementara itu, aku membuka surat pelan-pelan. Kemudian membaca surat itu yang isinya:

Assalamualaikum, Rohis! Ini ibu dalam keadaan sehat walafiat. Ibu merindukanmu dan ayahmu. Bagaimana kabarmu dan ayah di Desa? Ibu selalu mengharapkan ayah semakin sehat dan dapat bekerja kembali. Oh, iya, bagaimana dengan kerjaanmu? Kira-kira sudah cukup tidak untuk ongkos naik haji ibu dan ayah seperti yang kamu cita-citakan?

Ibu hampir lupa mengabarkan anak pertama abangmu di sini. Keponakanmu itu sekarang berusia satu tahun dua bulan. Dia sehat dan lucu sekali, mirip seperti kakeknya di desa. Hmm… Ibu jadi teringat pada ayahmu, terkadang ibu sedih dan ingin kembali pulang. Tidak hanya itu, ada kabar duka bahwa si Rasti, istri abangmu, meninggal dunia saat melahirkan Aji di rumah sakit. Kesedihan abangmu membuat kesedihan ibu menjadi berlipat ganda pada waktu itu. Ibulah yang merawat Aji sampai sekarang karena abangmu kerja dari pagi hingga jelang malam.

Sebenarnya, ibu telah meminta abangmu untuk membuat surat, tapi dia selalu sibuk sehingga ibu tidak mau membebaninya. Ibu menulis surat ini sendiri. Ibu ingin menyuruh abangmu untuk mengirimkan surat ini ke desa seperti biasanya, tapi untuk saat ini lebih baik ibu yang mengirimkannya sendiri supaya ibu mengerti cara mengirimnya. Kalau ibu sudah tahu, selanjutnya ibu yang akan mengirim surat ke desa.

Ibu tidak tahu mau tulis apa lagi, yang jelas ibu sangat ingin bertemu dengan kalian. Sebenarnya ibu ingin sekali melihat ayahmu, bagaimana dia sekarang? Ya sudahlah, ibu akan pulang nanti dan bertemu dengan ayahmu. Bilang sama ayahmu kalau ibu sangat merindukannya. Jaga ayahmu dan baik-baik di sana ya, Nak!

***

Ada sepucuk surat lagi dari kakak.

Rohis adikku, ini Bang Reza. Maaf jika abang sebelumnya tidak sempat mengirimkan surat ini kepadamu. Abang terlalu sibuk karena setiap hari harus bekerja, maklumlah sebagai buruh pabrik. Jika satu hari tidak bekerja, maka gaji abang akan dipotong dan kebutuhan kami tidak akan terpenuhi.

Sekali lagi, sebelumnya abang minta maaf atas pemberitahuan ini. Sebenarnya, ibu sudah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Semula, abang tidak tahu kalau ibu pergi untuk mengirim suratnya dan meninggalkan Aji sendiri di rumah. Abang sangat menyesal dan merasa bersalah dengan kejadian itu. Abang minta maaf baru mengabarkannya sekarang. Seharusnya abang menyempatkan diri untuk mengirim surat itu seperti biasanya. Abang tahu kalau ibu sangat rindu pada kalian. Abang pun teringat, di desa tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Abang berharap surat ini sampai ke alamat tujuan dengan cepat. Abang sengaja menyambung isi surat yang dibuat ibu, karena pada saat kecelakaan itu, ibu masih menggenggam surat ini, lalu surat ini abang simpan untuk dikirim kembali.

Abang sudah mengumpulkan uang. Abang berharap kamu dan ayah dapat pergi ke Pontianak dan tinggal di rumah abang. Ada uang sebanyak 600 ribu rupiah yang abang selipkan di dalam amplop beserta surat ini. Abang harap uang itu bisa membantu untuk menambah biaya keberangkatan kalian. Kamu catat nomor telepon abang: 081363445522. Sesampai di Pontianak, kamu dan ayah segera hubungi nomor itu. Abang akan menjemput kalian nanti dan memberitahukan di mana makam ibu. Hanya itu yang bisa abang lakukan. Untuk yang ke sekian kalinya, abang minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Satu pesan abang, tolong rawat ayah di sana, ya!

Wassalam. (*)

.

.

Penulis adalah mahasiswa STIK-P (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan) Medan. Karya-karyanya sudah dimuat di sejumlah surat kabar lokal.

.

Tart di Bulan Hujan

Cerpen Bakdi Soemanto (Kompas, 18 Desember 2011)

“TERNYATA harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.

“Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.

“Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan, saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,” Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek.

“Ngerokok lagi,” tiba-tiba Sum sedikit membentak. “Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti.”

“Beli roti bagaimana?” Uncok gantian membentak. “Kau ini edan, ya. Nyediain nasi aja susah, kok beli roti mewah kayak gitu. Itu makanan menteri, bupati, dan wali kota serta para koruptor. Tahu?! Kita makan nasi aja sama sambal…. Kamu itu mimpi….” Lakinya menegaskan.

Tiba-tiba sepi. Di langit ada mendung yang memberi sasmita akan hujan. Kilat sesekali menggebyar. “Rumah kita masih bocor,” kata Uncok lagi sambil mendongak. “Belum bisa beli plastik tebal penahan tiris. Kok kamu mikirin roti tart yang, buat kita, harganya triliunan rupiah. Edan kau itu!”

Sum diam. Tak mendengarkan omelan suaminya. Bayangan di depan matanya sangat jelas: tart dengan bunga-bunga mawar, dengan tulisan Happy Birthday. Betapa bahagianya anak yang diberi hadiah itu. Sum sendiri belum pernah mendapat hadiah seperti itu, apalagi mencicipi. Tapi, alangkah lebih bahagia ia jika bisa memberikan sesuatu yang dinilainya luar biasa, betapa pun belum pernah menikmatinya.

“Kurang beberapa hari lagi, Pak,” kata Sum memecah kesunyian.

“Apanya yang kurang beberapa hari lagi?” Uncok membentak. “Kiamatnya apa gimana? Kita memang mau kiamat. Hakim, jaksa, polisi, pengacara, menteri, anggota DPR… nyolong semua. Dan kau malah mau beli tart lima triliun. Duitnya sapa? Nyolong? Tak ada yang bisa kita colong. Ngerampok? Kau punya pistol atau bedil? Enggak! Kau cuma punya pisau dapur dan silet untuk mengerok bulu ketiakmu….”

Sum tak menyahut. Pikirannya masih melanglang ke toko roti. “Kita bisa naik bus Trans Yogya Pak, aman. Enggak ada copet. Pulangnya naik becak aja. Kita harus hati-hati bawa tart sangat istimewa itu, Pak. Ah, si bocah itu pasti seneng banget.… Kalau dia bisa seneng, alangkah bahagia diriku.”

Kedua tangannya dilekatkan pada dada dan membentuk sembah, menunduk. Tuhan, bisik Sum, perkenankan saya membeli tart untuk ulang tahun si anak miskin itu. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saking kepinginnya beli tart, seakan ia hendak menangis. Matanya terasa basah.

Kemudian hujan pun rintik-rintik. “Naaah, mau hujan,” kata lakinya. “Pindah-pindahin bantal-bantal. Jangan biarkan di situ, tempat tiris deras….” Uncok memberi komando. Sum tenang saja.

“Biarkan tiris membasahi rumah,” kata Sum. “Itu rezeki kita: air,” sahut Sum.

Uncok tak tahan. “Kamu kok semakin edan,” lakinya membentak. Malam merambat larut. Tidak diketahui dengan pasti apakah malam itu jadi hujan atau tidak.

***

Gagasan beli tart dengan bunga-bunga mawar itu sudah lama muncul di benak Sum. Dua tahun lalu. Waktu itu Bu Somyang Kapoyos, rumahnya di Surabaya, menginap lima hari di Yogyakarta karena urusan disertasi. Ia membawa putranya. Dan tepat satu hari kemudian, ia teringat ulang tahun anaknya. Cepat-cepat ia berganti pakaian, memanggil taksi dan meluncur ke toko roti Oberlin. Ia pun membeli tart ulang tahun dengan tulisan Happy Birthday dengan lima lilin menyala. Ketika kembali ke home stay, Sum, yang sedang menyapu lantai, melihat roti itu. Tergetar. Astaga, indahnya. Lilinnya menyala, seperti menyala dalam hatinya.

Aku harus beli tart itu, buat si bocah, saat ulang tahunnya di bulan hujan nanti, gumamnya.

“Berapa harganya, Bu?” tanya Sum.

“Tiga ratus lima puluh ribu,” jawabnya.

Astaga! Gaji Sum kerja di home stay hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan. Kalau ada tamu, ia memang sering mendapat tip, tetapi cuma cukup buat beli soto Pak Gareng tiga ribuan. Ia masih harus memikirkan seragam anaknya. Suaminya, yang sopir bus, tak selalu bisa bawa uang cukup. Jalan makin padat. Motor jutaan memenuhi jalanan. Sering macet. Kadang harus cari jalan lain. Perjalanan makin panjang. Artinya bensin boros, padahal bahan bakar mesti dibeli sendiri.

Tapi aku harus beli tart itu, gumamnya. Buat si bocah. Di ulang tahunnya di bulan hujan. Ia bakal senang. “Oh, enggak begitu mikirnya. Tapi gini: semoga ia senang. Tuhan, perkenankan ia senang menerima persembahan roti dari saya,” gumamnya lagi. “Tuhan, saya butuh sekali bahagia dengan melihat si bocah bahagia.…”

“Di mana tokonya, Bu,” tanya Sum lagi.

“O, deket toko onderdil motor itu,” jawab Bu Somyang, “Kamu mau beli?” tanyanya.

Sum mengangguk.

“Anakmu ulang tahun?” desak Bu Somyang.

“Buuukan anak saya, tapi kalau dianggap anak saya, ya enggak papa,” jawab Sum.

“Oooo, anak yatim piatu di panti asuhan yang kamu pungut?” Bu Somyang mendesak.

“Bukan, enggak,” jawab Sum.

“Ah, Sum aku tak paham. Tapi, aku ingin ingatkan kalau untuk anak-anak gelandangan, ya enggak usah tart kayak gini. Cukup beberapa potong roti santen apa roti bocongan atau roti teles yang seribuan ditambah minuman dawet. Itu pun tiap gelas cendolnya lima belas atau enam belas biji saja. Kalau anak-anak dibiasakan makan-minum yang mewah-mewah, kurang baik. Bisa tuman, ketagihan.”

Sum diam. Jantungnya terasa tertusuk oleh kata-kata yang diucapkan karena ketidaktahuan. Sum menunduk. Beberapa tahun silam pernah seorang penyair diminta berkhotbah di gereja. Ia berkata, malanglah dia orang yang tak tahu kalau ia tak tahu, hina dan sakit orang yang tak paham kalau ia tak paham. Kata-kata itu mendengung kembali di telinganya ketika ia menatap mulut Bu Somyang yang mengerikan.

“Aku harus membeli tart itu, apa pun yang terjadi,” gumam Sum. “Apa pun komentar orang aku tidak peduli. Aku hanya ingin si bocah bahagia pada hari ulang tahunnya. Selama bertahun-tahun aku menyaksikan perayaan ulang tahun si kecil, belum pernah ada yang membawa tart. Padahal, kalau mau, mereka bisa beli. Kebanyakan tamu yang datang sedikitnya naik motor, malah ada yang naik mobil. Heran! Bagaimanakah pikiran orang-orang itu.”

Dua minggu setelah menyaksikan tart yang menggetarkan, Sum memutuskan menabung. Ketika dikonsultasikan, Ketua Lingkungan menyarankan agar Sum menabung di bank. Tapi, Pak Karta Wedang memberi tahu bahwa bank kadang-kadang tak bisa dipercaya. Uang para nasabah dibawa lari oleh petugas bank sendiri dan bank tidak bertanggung jawab. “Oooo, gitu…,” kata Sum, “Lalu, enaknya gimana, ya?” Pak Karta tidak menjawab.

Akhirnya, Sum memutuskan menabung di rumah sendiri. Ia merencanakan menyisihkan uangnya lima belas ribu setiap bulan. Kalau ia sukses lebih menekan kebutuhan, setahun, kan, seratus delapan puluh ribu. Dua tahun, kan, tiga ratus enam puluh ribu. “Horeeeee! Dua tahun lagi, aku bisa beli tart buat si kecil. Dan masih sisa sepuluh ribu.” Hatinya bersorak-sorai….

Dan pada bulan hujan tahun ini, kegiatan menabungnya hampir genap dua tahun. Ia tak sabar lagi. Tapi, alangkah kecewa ketika ia menengok di toko roti Oberlin, tart yang dibayangkan sudah naik harganya. Ia sedikit lemas. Ia menjadi pucat. Dan pandangannya berkunang-kunang.

“Ada apa, Bu, sakit?” tanya pelayan toko. Sum menggeleng. Ia berkeringat dingin. Punggung terasa sedikit basah, tetapi keleknya terasa basah sekali.

“Ibu mau beli roti?” desak pelayan toko.

“Ya,” jawab Sum sangat pelan hampir tak terdengar. Apalagi lalu lintas hiruk-pikuk.

“Mau beli,” pelayan mendesak.

“Iyaa,” jawab Sum. Pelan sekali.

“Yang mana?”

Sum menuding tart mahal itu.

“Haaah?” Pelayan toko kaget sambil memandangi penampilan Sum.

Sum lemas. Bagaimanapun masih ada kekuatan.

“Tapi tidak sekarang,” Sum menegaskan.

“Oooo, kamu disuruh majikanmu lihat-lihat harganya, begitu?” Sum menggeleng.

“Saya mau beli sendiri. Saya sudah menabung. Tart itu untuk si bocah.”

Pelayan toko tak paham, dan mulai curiga. Karena itu, dengan cara halus, ia menggiring Sum ke luar toko. Perempuan itu melangkah ke luar.

“Masih ada waktu,” gumamnya. “Aku akan buruh nyuci di kos-kosannya Pak Nur Jentera. Pokoknya, bulan hujan tahun ini aku harus beli tart untuk si kecil. Aku ingin sekali merasakan bahagia ketika bocah itu bahagia. Kalau aku sudah berhasil membeli tart untuk si bocah, aku lega banget. Aku rela mati. Kalau yang aku lakukan dianggap keliru oleh sidang malaikat dan aku harus masuk neraka… ya enggak papa. Aku tetap bahagia di neraka. Ya, mati dengan bahagia sekali karena sudah bisa mempersembahkan roti tart di bulan hujan. Di minggu hujan. Di malam hujan,” gumamnya.

Tiba di rumah, ia langsung mengambil uang tabungannya yang disembunyikan di dalam lemari, di bawah pakaian. Kurang empat puluh lima ribu, gumamnya sambil menghitung uang receh. Ia ingat, ia harus membeli nasi buat anaknya, si Domble. “Tapi kalau aku berhasil nyuci pakaian di kos-kosan Pak Nur Jentera, semua bakal beres. Slamet bilang, Pak Jentera baik banget sama orang duafa. Beda banget dengan Wak Zettep yang pelit banget dan tukang mempermainkan orang.” Sum menunduk. “Tuhan, biarkan saya percaya bisa membeli tart untuk si bocah.”

***

Esoknya sudah mulai memasuki bulan hujan. Ia pun menghitung hari. Di lingkungannya, warga sudah sering kumpul-kumpul menyiapkan pesta ulang tahun. Di gereja banyak pengumuman tentang kegiatan menyongsong pesta itu. Sum tak pernah diajak. Alasan ibu-ibu kaya, Sum, kan, sibuk bantu rumah tangga sana-sini. Mana ada waktu buat gini-gini. Di samping itu, kalau ia diajak, Sum selalu merasa tak pantas duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan mereka. Sum selalu merasa dirinya orang duafa yang tempatnya di pinggiran.

Dengan senang Pak Jentera menerima Sum. Tampaknya, lelaki itu terpesona dengan cara kerjanya yang cekatan. Karena itu, tak ragu-ragu ia memberi Sum upah tambahan, bahkan boleh dikatakan setiap hari. Maka, sebelum saat pembelian tart tiba, di tangannya sudah ada uang cukup. Bahkan lebih. Sementara itu, Bu Jentera juga luar biasa perhatiannya. Sekali ia memanggilnya ke rumah.

“Kamu mau pesta apa pada natalan nanti.”

“Ah, enggak pesta kok, Bu, cuma mau beli tart,” jawab Sum.

“Tart? Tart? Siapa yang ulang tahun? Anakmu?” Bu Jentera kaget dan bertanya setengah mencecar. Tapi Sum tetap tenang.

“Bukan anak saya, Bu, tapi kalau dibilang anak saya, ya enggak papa,” jawab Sum.

“Ooooooooo, anak pungut? Di panti asuhan dekat rumah Wak Zettep yang terkenal pelit itu?” Bu Jentera bertanya lagi.

“Enggak, bukan… dia anak baik-baik, sangat baik… cantik sekali, pandangan matanya menggetarkan,” jawab Sum.

“Ah, aku tak paham,” kata Bu Jentera.

Lho, kata-kata Bu Somyang di ulang di sini, gumam Sum.

“Tapi baiklah,” kata Bu Jentera lagi, “kalau mau beli tart, ya, yang baik sekalian,” sambungnya.

Wuuuah, luar biasa ibu ini, kata Sum dalam hati.

“Nih, aku ngiur dua ratus ribu,” kata Bu Jentera sambil senyum sangat manis. Ya Tuhan, apakah Bu Jentera ini malaikat utusanmu, kata Sum dalam hati. Dengan gemetar Sum menerima uang itu. Tepat pada saat itu, Pak Nur Jentera tiba di rumah dari sepeda-an bersama persekutuannya. Ia langsung duduk dan mendengarkan cerita istrinya tentang rencana Sum.

“O, bagus, bagus,” kata Pak Jentera. Ia berdiri lalu tangan kanannya merogoh dompet di saku belakang.

“Mbak Sum mesti beli roti lain untuk tambahan. Kan anak-anak pasti akan datang, rame-rame. Nih, ada tambahan tiga ratus,” katanya dengan tenang. Sum hampir tak memercayai telinganya. Ya Tuhan, engkau begitu dermawan, jerit gembira hati Sum.

Hatinya bersorak-sorai. Ia pun lari ke Bapak Ketua Lingkungan menceritakan rencananya. Hujan pun turun, menderas.

“Apa boleh Bu Sum membawa tart masuk gereja, apalagi meletakkan tart itu di depan patung Kanak-Kanak Yesus di dalam Goa? Pak Koster pasti takut gerejanya kotor. Pastor paroki akan tanya, perayaan Natal dengan tart di depan Kanak-Kanak Yesus itu menurut ayat Kitab Suci yang mana, teologinya apa….”

Tanpa menggubris, Sum berangkat ke toko roti. Sebelumnya mampir ke rumah dulu, menemui suaminya, yang kebetulan tak nyopir. Uncok terdiam mendengar cerita Sum tentang Bapak Lingkungan. Sepi. Lama. Hati Uncok trenyuh. Laki itu merasa harus berbela rasa dengan istrinya. Apalagi ia membawa uang berlebih untuk beli seragam si Domble. Juga uang buat rokok.… Uncok, kemudian, mendekap istrinya.

“Selepas dari toko, pulang dulu,” kata lakinya. Sum tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terkunci. Keharuan mendesak paru-paru dan tenggorokannya. Suaminya berubah tiba-tiba.

“Tuhaaan, hebatnya dikau. Berangkatlah,” kata suaminya, “Pulangnya mampir ke rumah dulu sebelum ke gereja.”

Di toko roti, pelayan-pelayannya memandang dengan sebelah mata. Mereka tak percaya Sum punya uang untuk beli tart hampir empat ratus ribu.

“Tidak masuk akal,” kata Tanpoting, pemilik toko roti itu. Ketika Sum akhirnya mengeluarkan uang lebih dari harga tart, baru mereka percaya.

Pukul setengah empat sore Sum tiba di rumah. Alangkah kagetnya dia melihat goa dengan Kanak-Kanak Yesus di dalamnya sudah disiapkan lakinya di tengah rumah. Patung kecil-kecil itu rupanya dipinjam dari asrama para suster.

“Mereka memperkenankan aku memakai ini semua,” kata suaminya. Sum tak bisa berkata-kata apa-apa. Kegembiraan meluap.

“Taruhlah tart di sini,” kata Uncok, persis di depan Kanak-Kanak Yesus terbaring. “Nanti malam, selesai Misa Natal, anak-anak kita undang ke rumah ini merayakan ulang tahunnya. Tak perlu di gereja. Mereka akan menyanyi panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia…. Lalu anak-anak akan menyantap tart. Biarlah rumah kita kotor, tapi ada senyum dan tawa meriah.”

Sum memeluk suaminya. Air matanya menetes karena haru. Persis hujan turun dengan sangat deras dan rumah sepasang merpati itu tiris di sana-sini, kecuali di atas tart. Seluruh rumah basah, lambah-lambah. Tapi, Sum dan Uncok tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan. Si Domble pun ikut menari-nari sambil sesekali nyuri mencolek tart yang dibalut gula-mentega-cokelat yang lezat luar biasa. Patung Kanak-Kanak Yesus menatap mereka dengan senyum. Menjelang pukul sembilan malam, anak-anak langsung menyerbu rumah Sum dan Uncok selepas dari misa di gereja.

Mereka menari-nari di depan patung Kanak-Kanak Yesus dan tart. Kue-kue lainnya pun disiapkan. Anak-anak berebut membersihkan rumah yang basah dan kotor luar biasa.

Diam-diam Sum menatap pandangan mata anak-anak yang datang. Seperti bersinar, seperti bersinar… Sum berjongkok dan memeluk mereka satu demi satu. Sum tersedu karena haru dan bahagia…. (*)

%d blogger menyukai ini: